Kebohongan Pertama dan Selanjutnya, Lebih Sulit Mana?

Mayoritas manusia muka bumi ini pasti pernah berbohong, entah itu dilakukan terpaksa atau sengaja. Seseorang berbohong karena banyak , seperti ingin menghibur diri, menutupi kesalahan, atau memang ingin menyakiti orang lain.

Kebohongan - www.ramepedia.com

Kebohongan - www.ramepedia.com

Kebanyakan berpendapat, sangat mudah untuk berbohong ketika pertama kali melakukannya. Namun, akan sangat sulit melakukannya di kesempatan kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya. Kebohongan ini seperti menjadi bola salju yang makin lama makin membesar. Benarkah demikian?

Untuk mencari tahu jawaban ini, para ilmuwan dari University College di London melakukan percobaan dengan orang untuk bermain berbohong. Permainan ini cukup sederhana, tugas pemain adalah melihat stoples uang dan mencoba untuk memberi tahu temannya berapa banyak uang yang ada di dalam stoples tersebut.

Penting:   Tips dan Trik Membuat Kliping digital dengan Tema Kesehatan

Masing-masing pemain ini akan mendapat hadiah berdasarkan tebakan mereka. Hadiah bisa didapatkan jika mereka bekerjasama. Namun, terkadang pemain akan mendapat hadiah yang lebih banyak jika mereka berbohong kepada teman mereka.

Sementara permainan ini berlangsung, para ilmuwan menggunakan pemindaian otak yang disebut fMRI untuk melihat aktivitas di otak seseorang. Jika pemain berbohong, daerah otak yang disebut amigdala akan menyala pada scan. Amigdala sendiri adalah sejenis bilik kontrol emosional dalam otak kita. Daerah ini akan menyala setiap kali kita merasakan emosi yang cukup intens.

memuat...

Para ilmuwan memang melihat bahwa pusat emosi menyala ketika seseorang berbohong. Tetapi, amigdala tidak selalu tetap menyala dan itulah yang menarik dari cerita ini. Setiap kali seseorang berbohong untuk melayani diri sendiri, amigdala mereka bereaksi sedikit. Dan, jika kebohongan dilakukan berulang, malah menumpulkan respon emosional otak.

Penting:   Terapi Lintah, Terapi Kuno untuk Menyembuhkan Wajah Jerawat

Setidaknya, itulah yang spekulasi para ilmuwan terhadap riset ini. Menurut mereka, ketika pertama kali berbohong, amigdala menghasilkan respon emosional yang kuat, seperti rasa malu atau bersalah. Namun, semakin banyak Anda berbohong, respon amigdala semakin berkurang. Jadi, pada dasarnya, semakin banyak Anda berbohong, semakin mudah bagi Anda untuk tetap tenang.

Namun, para ilmuwan tidak melihat pola yang sama ketika kebohongan justru menguntungkan teman. Jadi, apakah kebohongan putih kecil kita katakan untuk melindungi teman?

Para ilmuwan berpikir, ini juga bisa mengajarkan kita hal-hal baru tentang pengambilan keputusan, meski perlu yang lebih dalam. “Kami hanya menguji tentang ketidakjujuran dalam percobaan ini, tetapi prinsip yang sama juga berlaku untuk eskalasi dalam tindakan lain seperti pengambilan risiko atau perilaku kekerasan,” kata penulis studi, Neil Garrett.

Penting:   Tentang Disfungsi Temporomandibular Joint (TMJ), Sendi pada Rahang
author

Leave a reply "Kebohongan Pertama dan Selanjutnya, Lebih Sulit Mana?"