Bangladesh merupakan salah satu negara di kawasan Asia Selatan yang sebenarnya masuk dalam kategori negara berkembang di dunia. Di negara ini, juga sering ditemui berita gizi buruk dan kekurangan bahan pangan. Namun, dalam rentang 12 tahun terakhir, sesuatu yang luar biasa terjadi di Bangladesh: anak-anak tumbuh lebih tinggi daripada biasanya.

cegah risiko kerdil pada anak - unikgaul2.blogspot.com
Fakta tersebut membuat para pakar gizi menggaruk-garuk kepala. Mereka tidak habis pikir bagaimana negara seperti Bangladesh yang notabene masih kesulitan dalam memperoleh gizi yang baik bisa memiliki anak-anak yang mampu tumbuh tinggi.
Dalam banyak kasus, anak-anak tidak akan bisa tumbuh secepat sebagaimana mestinya jika kekurangan gizi (biasa disebut kerdil). Bahkan, lebih dari 3 juta anak di bawah usia lima tahun meninggal dunia setiap tahunnya karena kekurangan gizi. Namun, fakta-fakta ini seolah tidak berlaku di negara yang bernama Bangladesh.
Pada tahun 2004, organisasi CARE, USAID, dan pemerintah Bangladesh bekerja sama dengan meluncurkan proyek SHOUHARDO, yang berarti “persahabatan” dalam bahasa setempat. Ketika itu, mereka belum menyadari bahwa proyek yang berfokus pada pemberdayaan perempuan tersebut ternyata bakal memengaruhi pertumbuhan anak-anak di Bangladesh.
Pada tahun 2006 hingga 2009, proyek ini berhasil menurunkan risiko kurang gizi pada anak-anak sebesar 28 persen. Angka tersebut hampir dua kali lipat dibandingkan proyek keamanan makanan yang didanai US Agency for International Development (USAID).
Lalu, bagaimana mereka berhasil melakukannya? Dengan meningkatkan kesehatan para perempuan (khususnya ibu-ibu), akses sanitasi yang aman, aset rumah tangga, pendidikan untuk ibu-ibu, dan akses ke pelayanan kesehatan.
“Perempuan yang berpartisipasi mendapatkan perawatan antenatal yang lebih baik, makan makanan yang bergizi, dan memperoleh waktu istirahat yang cukup selama kehamilan” kata penulis utama makalah proyek dari TANGO International, Lisa Smith. “Mereka dan anak-anak juga memiliki diet yang lebih baik dalam hal makanan.”
Pendekatan multidimensional Bangladesh untuk mengurangi risiko kerdil pada anak-anak memang harus ditiru oleh negara lain di dunia. “Kita dapat membuktikan bahwa negara berkembang dapat membantu anak-anak mereka untuk tumbuh lebih tinggi dan lebih sehat ketika organisasi sosial dan pemerintah bekerja sama,” sambung Lisa.
Pada tanggal 4 Agustus 2016 kemarin, pemimpin global telah mengadakan Konferensi Tingkat Tinggi kedua tentang Nutrisi di Rio de Janeiro, Brasil. Dalam KTT ini, para pemimpin tersebut mendiskusikan usaha-usaha untuk memerangi kelaparan dan kekurangan gizi di seluruh dunia sebagai wujud mengatasi masalah kesehatan global hingga tahun 2020 mendatang.